Kata "Lukat" dalam bahasa Jawa kuno memiliki arti bersih, melukat dapat dilakukan pada sumber mata air, Segara (laut), campuan ( pertemuan 2 sungai) . Dalam Pustaka Suci “Manawa Dharma Sastra” Bab V sloka 109, dinyatakan sebagai berikut : Adbhir gatrani cuddhyanti manah satyena cuddhyti, cidyatapobhyam buddhir jnanena cuddhyatir Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. Ada 7 macam upacara melukat, yaitu sebagai berikut : •Melukat Astupungku, untuk membersihkan dan menyucikan malapetaka seseorang yang diakibatkan oleh Pengaruh hari kelahiran dan Tri Guna (Satwam, Rajas, Tamas) yang tidak seimbang dalam dirinya. •Melukat Gni Ngelayang, untuk pengobatan terhadap seseorang yang sedang ditimpa penyakit. •Melukat Gomana, untuk penebusan Oton atau hari kelahiran yang diakibatkan oleh pengaruh yang bernilai buruk dari Wewaran dan Wuku. Misalnya pada mereka yang lahir pada wuku Wayang. •Melukat Surya Gomana, untuk melepaskan noda dan kotoran yang ada pada diri Bayi. Misalnya pada saat Nelu Bulanin. •Melukat Semarabeda, untuk menyucikan Sang Kama Jaya dan Sang Kama Ratih dari segala noda dan mala pada upacara Pawiwahan (Perkawinan) •Melukat Prabu, untuk memohonkan para pemimpin agar kelak dalam melaksanakan tugasnya mendapatkan kejayaan dan kemakmuran. •Melukat Nawa Ratna, dapatkan dikatakan mempunyai makna yang sama dengan Melukat Prabu. . Dumogi Bermanfaat angge pabligbangan(diskusi) yening kirang mohon dikoreksi suksme Foto due : @sayapadma Lokasi : Pura Tirta Sudamala Bangli Sumber dikutip dari inputbali #infobudayabali #baliyangbali #melukat #budaya