"Huma" adalah istilah dalam penyebutan Sawah terdapat dalam Prasasti Sukawana A1 882 Masehi Kemudian pada Abad ke 11 sebuah Prasasti yang dikeluarkan Bhatara Raja Anak Wungsu 1072M mengenai batas-batas atau pengukuran luas sawah Prasasti itu berbunyi; "...masukatang huma di kadandan di errara kasuwakan rawas..." "...mengukur sawah di kadandari dari er-rara didalam wilayah Kasuwakan raras" (Callenfels 1926:60--4) . "Subak" adalah istilah baru yg mungkin berasal dari bahasa kuno "Kasuwakan" kata ini pertama kali disebutkan dalam Prasasti Pandak Badung berangka tahun 1071 M

kemudia kata itu juga disebutkan dalam prasasti kelungkung pada tahun 1072 M yaitu: "...sawah kadangan i kesuwakan rawas..." artinya "Sawah didesa kadangan dalam wilayah Kasunwakan rawas" (Goris1954.I:23) . Kemudian Prasasti Bebetin A1 896 M Dan Prasasti Batuan 1022 M disebutkan adanya 3 kelompok khusus dalam irigrasi huma diBali Kuno; 1.Undagi Pengarung (ahli membuat trowongan atau Aungan dalam bahasa bali kuno Arung sumber cf.Swellengrebel1960:11) 2.Serdanu,kepala urusan air Danau (Danau Batur) prasasti yang menyebutkannya Trunyan A 891 41 Awalan "Ser pada Serdanu memiliki arti penghulu, pemimpin yg kemudian hari berkembang menjadi Pekaseh" 3.Asedahan, pejabatnya disebut Sedahan yg bertugas pengorganisasian subak ,pajak|upeti atau disebut "Tigasana" sumber Negarakertagama .

Fotodue;@sudarma_55 Tegalalang Gianyar Bali Sumber;Sejarah Kebudayaan Bali #infobudayabali #baliyangbali #sejarah